Hari Pertama Perundingan AS-Iran

SEDIKIT ANGIN SEGAR: Bürgenstock, Switzerland,

Oleh: Abdul Jabbar Karim bin Namirudin

Hari Minggu 21 Juni 2026 adalah sesi pertama pembicaraan tingkat tinggi di bawah kerangka Nota Kesepahaman (MoU) di Burgenstock, Swiss, dengan partisipasi perwakilan dari Republik Islam Iran, Amerika Serikat, serta dua pihak mediator, yaitu Negara Qatar dan Republik Islam Pakistan.

Pagi hari para delegasi telah berkumpul dan memulai perundingan secara terpisah dengan mediasi Pakistan dan Qatar. Sore harinya dua pihak, AS dan Iran bersama mediator, keempatnya berkumpul untuk menyatukan poin-poin yang diajukan. Di tengah acara itu tiba-tiba beredar di sosial medianya Donald Trump yang mengancam para delegasi Iran yang “tak akan pulang dalam keadaan hidup” dan hujatan lainnya tentang Selat Hormuz yang akan dijaga oleh AS. Suasana menjadi rusak oleh kelakuan sang Presiden AS ini. Delegasi Iran siap meninggalkan ruangan sebagai protes atas pernyataan Trump, namun para Perdana Menteri Pakistan dan Qatar berhasil membujuk Iran agar tetap melanjutkan pembicaraan dan tidak perlu mengindahkan pernyataan Trump. Perundingan berlanjut, dan secara umum oleh Iran dan AS keduanya menyatakan cukup puas dengan hasilnya.

Provokasi Trump gagal. Tidak berpengaruh kepada proses pembicaraan empat negara tersebut.

Dalam pernyataan bersama Qatar dan Pakistan selaku mediator mengenai kesimpulan perundingan di Danau Lucerne, dinyatakan:
“KTT Danau Lucerne berlangsung dalam suasana yang positif dan konstruktif. Kemajuan yang menggembirakan telah dicapai, termasuk pembentukan mekanisme untuk pembicaraan teknis lebih lanjut. Berdasarkan MoU tersebut, para pihak sepakat untuk membentuk Komite Tingkat Tinggi yang akan memberikan pengawasan politik terhadap mediasi. Negosiator utama akan melapor secara berkala kepada Komite Tingkat Tinggi dan memimpin kelompok kerja yang berfokus pada isu nuklir, sanksi, serta kelompok pemantauan dan penyelesaian sengketa.”
“Komite Tingkat Tinggi juga telah menyepakati sebuah peta jalan (roadmap) menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari. Selain itu, jalur komunikasi antar pihak telah dibentuk untuk menghindari insiden dan salah komunikasi demi menjamin jalur aman bagi kapal komersial melalui Selat Hormuz. Para pihak juga menyepakati pembentukan “Sel Dekonflik” (deconflict cells) bersama Republik Lebanon untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Lebanon.”

Berikut adalah beberapa pokok hasil negosiasi tersebut:
• Pembentukan Komite Tingkat Tinggi: Struktur ini akan memberikan pengawasan politik dan menerima laporan dari negosiator utama mengenai berbagai kelompok kerja (nuklir, sanksi, dan penyelesaian sengketa).
• Target Waktu 60 Hari: Para pihak telah menyepakati peta jalan untuk mencapai kesepakatan akhir dalam kurun waktu 60 hari.
• Keamanan Selat Hormuz: Pembentukan jalur komunikasi khusus untuk mencegah salah paham dan menjamin keamanan navigasi kapal komersial di Selat Hormuz.
• Mekanisme Dekonflik Lebanon: Pembentukan sel dekonflik yang melibatkan Lebanon untuk memastikan penghentian operasi militer sesuai dengan kesepakatan dalam MoU.
• Kelompok Kerja Teknis: Adanya kelompok-kelompok khusus yang akan memfokuskan pembahasan pada isu-isu krusial seperti nuklir dan sanksi.
• Kelanjutan Pembicaraan: Pembicaraan teknis akan terus berlanjut sepanjang minggu ini di resor Burgenstock untuk membahas semua isu yang tersisa.

Sebelumnya, seusai perundingan, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei pada hari Senin 22 Juni menyatakan bahwa kemajuan besar telah dicapai dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat, menyoroti kesepakatan baru yang bertujuan untuk menstabilkan situasi di Lebanon dan memastikan keamanan maritim di Selat Hormuz. Juga mengatakan bahwa mekanisme baru yang dikenal sebagai “Sel Dekonflik” telah dibentuk dengan melibatkan mediator untuk memantau dan menjaga gencatan senjata Lebanon. Ia juga mengumumkan bahwa kesepakatan telah tercapai mengenai mekanisme untuk menjamin jalur aman kapal melalui Selat Hormuz.

Hampir bersamaan dengan itu secara terpisah Wapres AS, JD Vence memberikan keterangan pers dan menguraikan beberapa pencapaian utama dari negosiasi:
• Pembentukan Mekanisme Dekonflik: Salah satu pencapaian penting adalah pembentukan mekanisme dekonflik yang dimulai sekitar pukul 4 sore waktu setempat. Mekanisme ini bertujuan agar pihak-pihak yang bertikai (seperti Hezbollah, Lebanon, dan Israel) dapat saling berkomunikasi guna mencegah eskalasi konflik yang tidak terkendali saat terjadi insiden tertentu,.
• Gencatan Senjata dan Kemajuan Menuju Perdamaian: Vance menyatakan bahwa saat ini konflik berada dalam status gencatan senjata. Ia mengeklaim telah terjadi kemajuan besar menuju kesepakatan akhir dan penyelesaian permanen.
• Kemajuan dalam Isu Lebanon: Terjadi kemajuan yang digambarkan sebagai “sangat baik” terkait situasi di Lebanon. Tujuannya adalah untuk mencapai gencatan senjata regional di mana kedaulatan Lebanon dihormati dan keamanan Israel terlindungi tanpa adanya niat teritorial dari pihak Israel di Lebanon Selatan.
• Rencana Pengelolaan Aset Iran: Vance menjelaskan sebuah solusi (yang disebutnya sebagai “kesepakatan klasik Trump”) terkait aset Iran yang dibekukan. Jika aset tersebut nantinya dicairkan, prosesnya akan diawasi oleh AS dan Qatar untuk memastikan uang tersebut digunakan untuk membeli kedelai, jagung, dan gandum dari petani Amerika guna membantu rakyat Iran, bukan untuk mendanai terorisme,.
• Inspeksi Nuklir: Terdapat kemajuan dalam koordinasi dengan para inspektur nuklir dan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) yang diharapkan dapat segera memulai tugas mereka, kemungkinan besar dalam minggu yang sama dengan negosiasi tersebut.
• Dukungan Regional: Negosiasi ini melibatkan kontak konstan dengan mitra regional seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Lebanon, yang menunjukkan bahwa kesepakatan ini didukung oleh negara-negara di kawasan tersebut.

Terbaca adanya kesamaan persepsi oleh para pihak tentang kemajuan pembicaraan dalam perundingan tersebut yang sedikit memberikan angin segar menuju penyelesaian konflik ini.

Kita tunggu pembahasan poin-poin berikutnya dalam MOU yang akan menjadi kesepakatan sebelum menjadi (atau tidak jadi) dokumen perjanjian resmi antar negara. Juga penting diamati perkembangan manuver berikutnya oleh pihak Israel mempengaruhi Trump untuk membatalkannya, seberapa kuat “kartu rahasia” Israel dimainkan untuk menyandera Trump. Beberapa komentator menyebutkan bahwa ada rekaman dalam dokumen Epstein yang akan menyudutkan Trump dan pejabat-pejabat AS apabila itu dibuka oleh pihak Israel.

Namun, terbaca bahwa Trump menyadari ancaman nyata dampak kelangkaan pasokan minyak bagi ekonomi AS yang sudah menghabiskan dua pertiga cadangan strategis minyak dalam negeri, dan ancaman depresi ekonomi dunia yang diakibatkan oleh perang yang dipilih oleh AS (the war of choice) akibat desakan Israel. Dalam pernyataannya, Trump tidak ingin dikenang sebagai presiden yang mewariskan depresi ekonomi. Mungkin ini dapat menjadi motivasi bagi Trump untuk berani bangkit melawan tekanan Netanyahu. Semoga.

(Disarikan dari sumber [1], [2] dan [3] per tanggal 23 Juni 07.23 saat tulisan ini ditayangkan).