Titik Balik Amerika Serikat?

Menanti Trump Bangun dari Tidurnya

Oleh Abdul Jabbar Karim bin Namirudin.

Dalam lanskap politik internasional saat ini, pandangan Professor John Mearsheimer (Universitas Chicago) memberikan perspektif yang berbeda mengenai posisi Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, khususnya terkait hubungannya dengan Iran. Mearsheimer berargumen bahwa Iran sebenarnya bukanlah ancaman yang berarti bagi keamanan atau kedaulatan fundamental Amerika Serikat. Secara teori, AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan hidup berdampingan atau modus vivendi dengan relatif mudah jika kepentingan nasional murni menjadi satu-satunya pertimbangan. Kesepakatan semacam itu berpotensi mencakup pengayaan nuklir terbatas, pemulihan ekonomi Iran, dan stabilitas keamanan regional yang menguntungkan kedua pihak. Namun, hambatan utama dari normalisasi ini bukanlah ketidakmampuan diplomasi, melainkan pengaruh masif lobi Israel dalam politik domestik AS yang memprioritaskan agenda keamanan Israel di atas kepentingan strategis Amerika sendiri.

Mearsheimer mencatat terjadinya propaganda “demonisasi” (dari kata demon, atau iblis) oleh kedua belah pihak. Selama ini publik Amerika telah dikondisikan untuk percaya bahwa Iran adalah negara yang jahat. Sebaliknya, dari sudut pandang Iran, tindakan-tindakan Israel dan AS di kawasan tersebut dikategorikan sebagai tindakan genosidal yang dibuktikan dengan rangkaian pembunuhan terhadap tokoh-tokoh ilmuwan Iran, termasuk pimpinan militer dan diplomatnya, yang kemudian digunakan oleh Iran untuk membenarkan strategi pertahanan mereka yang keras. Persepsi ini menciptakan kebuntuan diplomatik yang tajam. Jika Iran yakin bahwa mereka sedang menghadapi aktor-aktor yang berniat menghancurkan mereka secara total (genosidal), maka ruang untuk kompromi menjadi sangat sempit. Sebaliknya lobi Israel di AS juga bekerja keras untuk memastikan tidak ada kesepakatan yang tercapai, sehingga memperkuat narasi permusuhan eksistensial di kedua belah pihak.

Kuatnya lobi Israel di AS dilakukan melalui AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) yang memberikan dukungan finansial penuh kepada calon anggota Kongres (parlemen, perwakilan rakyat) yang berjanji akan memberikan dukungan penuh kepada Israel dalam setiap kebijakan politik luar negeri AS. Donasi besar-besaran juga diberikan kepada calon Gubernur, Walikota, bahkan kepada calon Presiden dan Wakil Presiden AS dari kedua partai, Republik maupun Demokrat. Mereka secara terbuka melakukan manuver ini yang dimungkinkan dengan adanya mekanisme “Super PAC” (Super Political Action Committee), selaku komite aksi politik di Amerika Serikat yang dapat mengumpulkan dan menghabiskan dana dalam jumlah tidak terbatas untuk mendukung atau menentang kandidat politik. Aturan ini berasal dari keputusan Mahkamah Agung AS pada tahun 2010. Sistem ini sangat mengubah wajah pemilu AS karena memungkinkan pihak-pihak dengan modal besar, seperti miliarder dan korporasi, untuk menyuntikkan dana kampanye berskala masif. Banyak tokoh publik (seperti Profesor Jeffrey Sachs dari Columbia University, podcaster Tucker Carlson) secara terbuka mengkritisi sistem ini sebagai penyebab cacatnya demokrasi di AS.

Lobi Israel secara sistematis bekerja untuk menghalangi setiap upaya penyelesaian yang dapat menjadikan Iran berada dalam posisi yang kuat, baik secara ekonomi maupun keamanan. Kekuatan lobi ini terbukti sangat stabil dan melintasi berbagai administrasi, mulai dari pemerintahan Joe Biden hingga Donald Trump, meskipun opini publik Amerika mulai bergeser menjadi lebih kritis terhadap kebijakan Israel. Strategi yang digunakan mencakup sabotase militer terhadap Hezbollah selaku sekutu Iran seperti setiap kali diplomasi mulai menunjukkan kemajuan, guna memastikan kesepakatan tidak pernah tercapai. Selain itu, lobi ini memastikan AS tetap terikat secara militer di Timur Tengah dan melindungi tindakan Israel dari tekanan diplomatik internasional, sehingga Washington sering kali mengabaikan tuntutan regional agar Israel menarik diri dari wilayah pendudukan.

Pergeseran ini terjadi di tengah runtuhnya arsitektur keamanan lama di Teluk Persia yang selama ini mengandalkan “payung keamanan” Amerika Serikat. Pangkalan militer AS di kawasan tersebut kini dipandang sebagai magnet serangan rudal dan drone Iran, yang justru membawa risiko bagi negara tuan rumah daripada memberikan perlindungan. Fenomena ini memicu fragmentasi di dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), di mana negara-negara seperti Arab Saudi, Oman, dan Qatar mulai menjauh dari AS dan mencoba membangun hubungan pragmatis dengan Iran melalui pendekatan “Realisme Defensif.” Sebagai gantinya, muncul kesadaran akan pentingnya arsitektur keamanan inklusif yang mengedepankan koeksistensi dan integrasi ekonomi sebagai penjamin keamanan guna meningkatkan biaya konflik di masa depan.

Pilihan konfrontasi dengan Iran ini menciptakan risiko keamanan baru bagi negara-negara yang tetap memilih bersekutu erat dengan Israel. Jika Israel menyerang sekutu Iran (seperti Hezbollah di Lebanon), Iran secara terbuka menyatakan akan membalas dengan menyerang sekutu Israel di kawasan tersebut; UEA yang tadinya menjadi proksi operasional Israel di Timur Tengah akhirnya harus menyerah dengan memberikan uang tebusan kepada Iran agar tidak menghukumnya karena pernah menyediakan pangkalan penyerangan ke Iran.

Di panggung global, kekuatan besar seperti Tiongkok dan Rusia menghadapi dilema strategis terkait konflik ini. Di satu sisi, perang memberikan keuntungan taktis jangka pendek bagi Rusia dalam sektor energi dan pengalihan perhatian militer AS dari Ukraina, sementara Tiongkok diuntungkan oleh pergeseran fokus AS ke Teluk Persia telah menggeser pentingnya isu Taiwan bagi AS. Namun, di sisi lain, kedua negara tersebut juga sangat khawatir akan kemungkinan ekonomi dunia menghadapi kehancuran yang lebih buruk dibandingkan depresi ekonomi 1929 jika perang terus berlanjut hingga mengganggu sistem perdagangan internasional secara permanen. Para pengamat dan pakar hubungan internasional semua sepakat bahwa jika gencatan senjata tidak segera tercapai maka ancaman dampak ekonomi akan dirasakan semua negara secara global, termasuk negara-negara yang sama sekali tidak terlibat dalam konflik. Sebuah krisis ekonomi global dengan dampak yang sangat serius, terutama bagi negara-negara berkembang.

Risiko kehancuran ekonomi global ini sebenarnya menjadi insentif kuat bagi hampir seluruh dunia untuk menghentikan perang, kecuali bagi Israel yang tampak tidak peduli dengan risiko tersebut demi mencapai tujuan utamanya: pelemahan total Iran dan agenda “Greater Israel” sebagai kekuatan penentu di Timur Tengah dan Asia Barat.

Dalam jangka panjang, kemampuan AS untuk memproyeksikan kekuatannya sangat bergantung pada bagaimana ia mengelola institusi internasional dan aliansi strategis. Mearsheimer mencatat bahwa tindakan sepihak dan pengabaian hukum internasional, seperti yang sering ditunjukkan dalam retorika Donald Trump, justru melemahkan pengaruh global Amerika. Sementara AS terlihat semakin menjauh dari lembaga internasional dan sekutu tradisionalnya di kawasan Arab, Tiongkok justru memperkuat posisinya melalui diplomasi multilateral seperti BRICS dan SCO, bahkan mulai menggeser dominasi Petrodolar menjadi Petroyuan dalam perdagangan minyak. Hambatan utama dari normalisasi hubungan internasional AS ini bukanlah ketidakmampuan diplomasi, melainkan pengaruh masif lobi Israel yang sistemik dan tidak bergantung pada partai politik yang sedang berkuasa, mengalahkan kepentingan politik domestik AS dan lebih memprioritaskan agenda keamanan Israel di atas kepentingan strategis Amerika sendiri.

Ketika pasokan minyak dunia berhasil dicekik oleh Iran dengan menutup secara selektif jalur minyak di Selat Hormuz bagi kapal-kapal tanker Barat, AS terpaksa menguras cadangan strategis minyak di dalam negerinya untuk sedikit menekan harga BBM agar tidak terlalu melonjak tinggi, yang akhirnya telah sampai pada titik dimana cadangan minyak ini mulai habis dan hanya mampu bertahan selama 4 minggu. Inilah menjadi alarm yang membangunkan Donald Trump dari tidurnya, dan merasa harus mengakhiri permusuhannya dengan Iran. Trump harus mengakui realitas ini dan bangkit dari pengaruh hipnotis Netanyahu. Upaya gencatan senjata yang dipersyaratkan Iran akhirnya harus diterima selain untuk menstabilkan harga minyak dunia kembali ke angka normal juga demi menyelamatkan para pebisnis global selain menjaga reputasi kepresidenannya di dalam negeri; Trump akan memposisikan dirinya sebagai “penyelamat” kehancuran ekonomi dunia.

Sudah dapat diantisipasi bahwa Israel tidak akan menerima MOU perdamaian AS, bahkan secara terbuka mengecam AS sebagai “pengkhianat” dalam hubungan kedua negara, bahkan Miriam Aldesen, pendana terbesar Trump ikut mengecamnya. Hal ini justru sangat menyinggung ego narsistik Trump, membuatnya naik pitam sebagai figur yang merasa dirinya memegang kendali dan yang selama ini telah menuruti semua permintaan kelompok Zionis sepenuhnya. Trump dengan gusar merespon dan menyatakan mereka sebagai “kurang ajar dan tak tahu berterima kasih” — diberi hati malah merogoh ampela. 

Catatan Alex Jones (salah satu podcaster populer pendukung Trump) memberikan kemungkinan skenario ke depan:
Kondisi Agar Israel Mundur: Israel akan mundur dari pendudukan Libanon, setidaknya untuk saat MOU dijalankan, hanya jika Trump mengambil tindakan tegas seperti mengeluarkan orang-orang yang terlalu mengutamakan kepentingan Israel dari administrasinya, dan mengancam akan memutus pendanaan jika mereka bertahan melakukan genosida, dan menegaskan bahwa AS tidak akan memberikan dukungan dan membiarkan mereka digempur balas oleh Iran.
Masa Depan Netanyahu: Trump telah melakukan kontak pintu belakan mencoba membuat kesepakatan dengan pihak oposisi Netanyahu. Ia bahkan menyarankan kemungkinan adanya “amnesti” bagi Netanyahu agar ia bisa melepaskan jabatannya tanpa menghadapi tuntutan hukum yang saat ini menjeratnya, sebagai cara untuk mengambil alih kendali pemerintahan Israel.
Faktor Iran dan Selat Hormuz: Jika deeskalasi berhasil dan situasi akan mereda dengan cepat maka Iran akan memberlakukan membuka Selat Hormuz dan mengaturnya bersama AS dan tetangga-tetangganya, sehingga harga minyak kembali normal dan ekonomi dunia bisa kembali stabil.
Tekanan Internal di Gedung Putih: Bahwa ada orang-orang di dalam Gedung Putih, yang adalah Zionis Kristen, pun yang merasa kebijakan saat ini sudah di luar kendali dan mendorong agar pejabat kabinet berani mengonfrontasi Trump agar tidak lagi menuruti Netanyahu, sejalan dengan peringatan Pentagon bahwa perang ini adalah ide yang buruk, dan membatalkan kerjasama Pentagon dengan Israel.
Sinyal Perubahan Dukungan: Munculnya pernyataan figur-figur media dan podcaster independen (tidak dalam bayaran Israel) yang biasanya fanatik mendukung Israel, kini mulai menentang tindakan Netanyahu. Ini merupakan sinyal kuat bahwa tindakan Israel saat ini sudah melampaui batas dan kehilangan dukungan dari basis pendukung intinya di Amerika. Ini merupakan peluang bagi Trump untuk menarik simpati pendukunganya yang selama ini sebagian besar telah meninggalkannya.

Banyak pihak, termasuk yang selama ini mengkritisi Trump, tentu juga pendukung Trump, berharap Trump dapat “bangun” dan memperbaiki situasi ini agar Amerika tidak terus dimanipulasi ke dalam konflik yang lebih besar. Bagaimana Trump dapat melepaskan diri dari lobi Zionis Israel (termasuk politisi partai Demokrat yang memprovokasi dan mengecam Trump karena dianggap “menyerah total” dan terlalu mengikuti semua prasyarat Iran) hal ini akan menjadi catatan penting dalam titik balik hubungan AS dengan Israel, dan membuka peluang adanya arsitektur hubungan kekuatan global yang baru yang lebih sehat. Mari kita ikuti perkembangannya, semoga menuju kehidupan hubugan internasional yang lebih baik, dalam kebersamaan kerjasama yang saling menguntungkan.

* Penulis adalah seorang dosen/peneliti dan penulis, penggerak sosial dan pemerhati kritis tentang hubungan internasional. — (Versi panjang tulisan ini dapat dilihat di Blog Penulis).