TRAGEDI DAN HARAPAN

Bagaimana dan apa pengaruh “Jaringan” global.

Oleh: Abdul Jabbar Karim bin Namirudin

Tulisan ini dibuat sebagai respons dan sekaligus melengkapi tulisan Chriswanto Santoso di media ini (“Bagaimana Dark Money Mengendalikan Kebijakan di Negara Adidaya.”

***

Dalam bukunya Tragedy & Hope 101 yang relatif baru (2014) pasca krisis keuangan global 2008, Joseph Plummer, seorang penulis yang peduli kehidupan masyarakat meringkas tulisan penelitian sejarah dari sejarawan Amerika terkemuka, Carroll Quigley (Tragedy & Hope dan The Anglo-American Establishment) yang terbit dua puluh tahun sebelumnya untuk menjelaskan bagaimana jaringan kekuasaan elit beroperasi dengan menjadikan perbankan sentral (di AS adalah Federal Reserve) untuk mendominasi sistem politik dan kehidupan masyarakat. Meskipun analisisnya berfokus pada AS, dalam tulisan ini penulis memberikan pandangan tentang apa yang diungkapkan Plummer sebagai “Jaringan” (the Network) dan apa kemungkinan kaitannya dengan kehidupan global masa kini, termasuk pengaruhnya ke Indonesia.

“Jaringan” yang disebutkan Plummer telah berkembang dan penulis mengamati telah menjadi apa yang sering disebutkan dalam media kritis sebagai OCGFC (“Owners and Controllers of Global Financialized Capital” ­ yaitu para “pemilik dan pengendali modal keuangan global,” merujuk pada individu dan institusi yang mempengaruhi ekonomi dunia melalui financialized capital (permodalan yang menjadi bagian dalam jaringan kapitalisme finansial) dalam era masa kini. Termasuk dalam kelompok ini adalah Wall Street, City of London, Blackrock, dan pemerintah dengan dana sovereign fund besar seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dan beberapa yang lain. (Catatan fast forward: ini dapat menjadi alasan untuk menduga kenapa akhir-akhir ini Arab Saudi dan Uni Emirat Arab bersepakat untuk melakukan serangan ke kelompok Houti di Yaman, lalu mengundang Israel dan AS untuk memberikan bantuannya).

Dalam analisis Plummer, semua ini ternyata memiliki akar sejarah yang cukup panjang merujuk pada tulisan Carroll Quigley, dan ini yang menurut penulis layak untuk kita pahami dan amati.

1. Siapa Jaringan Rahasia dan Struktur Kekuasaan Tersembunyi, dan Bagaimana Mereka Mempengaruhi Politik Global?

  • Asal Usul dan Identitas:

    Plummer melacak asal usul struktur kekuasaan tersembunyi—yang disebut hanya sebagai “Jaringan” atau Anglo-American Establishment—kembali ke era Inggris akhir abad ke-19. Terinspirasi oleh kuliah profesor John Ruskin dari Oxford yang dipengaruhi oleh keyakinan bahwa Inggris memiliki misi sejarah dan budaya yang khas, dilandasi asumsi tentang superioritas nasional, hierarki sosial, dan tanggung jawab khusus para bangsawan Inggris, maka dua bangsawan Inggris Cecil Rhodes[i] dan Lord Alfred Milner (dapat kita beri julukan “raja perompak berlian” di Afrika) secara resmi mendirikan sebuah masyarakat rahasia pada tahun 1891.

  • Struktur Jaringan Lingkaran:

    Rhodes dan Milner membangun struktur “lingkaran dalam lingkaran”. Inti lingkaran dalam (para elit utama) mengarahkan lingkaran luar yang terdiri dari pemimpin politik, keuangan, dan akademisi yang direkrut, yaitu mereka yang menjadi mitra atau “agen” dalam menjalankan misi “jaringan” Rhodes dan Miller.

  • Lingkaran Luar dan Penyebarannya:

    “Jaringan” menciptakan organisasi di lingkaran luar yang bersifat semi-rahasia untuk mempengaruhi berbagai negara:

    • Grup Meja Bundar di Inggris Raya dan wilayah-wilayahnya (1909–1913).
    • The Royal Institute of International Affairs (Chatham House) di London (1919).
    • Dewan Hubungan Luar Negeri (CFR – The Council on Foreign Relations) di Amerika Serikat (1921), yang dijelaskan oleh Quigley sebagai kedok luar bagi J.P. Morgan dan kelompok usahanya.
    • Institut Hubungan Pasifik (IPR – The Institute of Pacific Relations) untuk membentuk kebijakan luar negeri di kawasan Timur Jauh, dimana Indonesia secara geografik termasuk di dalamnya.
    • Beberapa Yayasan nir-laba yang bebas pajak yang saling terkait (seperti Ford, Carnegie dan Rockefeller Foundation) untuk mengarahkan penelitian ilmiah, kebijakan, dan kurikulum pendidikan.
    • Agensi Militer & Intelijen Tersembunyi, termasuk CIA dan “jaringan di belakang” (dikenal dengan sebutan operasi “Stay Behind” NATO).[ii]
  • Pengaruh terhadap Politik Global:

    • Erosi Kedaulatan Nasional: Tujuan jangka panjang utama dari “Jaringan” adalah untuk membongkar kedaulatan nasional dan mengkonsolidasikan kekuasaan ke dalam teknokrasi global yang dipimpin oleh “an unelected, expert-directed global technocracy” atau pemimpin yang bukan menjadi pilihan tetapi sebagai sorang ahli dalam pengarahan teknokrasi global (dalam misi untuk membangun “Tatanan Dunia Baru”).
    • Pengendalian Politik Bipartisan: Jaringan memastikan kontrol atas pemerintahan demokratis dengan mensponsori kandidat-kandidat utama di kedua partai politik besar di AS. Misalnya, dalam pemilihan umum tahun 1912, orang dalam “Jaringan” membiayai kampanye pihak ketiga Teddy Roosevelt untuk memecah suara Partai Republik, menggulingkan petahana William Howard Taft (yang menentang bank sentral) dan memasang Woodrow Wilson sebagai pemenang.
    • Realpolitik dan Strategi Amoral: Para operatif dalam Jaringan mempraktikkan raison d’état (“alasan negara”) dan Realpolitik (permainan politik praktis). Seperti yang diperankan oleh tokoh-tokoh seperti Henry Kissinger atau Paul Wolfowitz[iii], batasan moral dibuang, dan tindakan dinilai semata-mata berdasarkan apakah mereka mencapai tujuan yang diinginkan oleh kelas elit penguasa.

2. Apa Peran Perbankan dan Lembaga Keuangan Bersama Jaringan Rahasia?

Plummer menyoroti kontrol atas uang sebagai senjata utama “Jaringan” dan sumber kekuatan yang mendasar. Mengutip pandangan Quigley yang menyatakan ambisi mereka sebagai menciptakan “sistem dunia kontrol keuangan di tangan swasta yang mampu mendominasi sistem politik setiap negara dan ekonomi dunia secara keseluruhan”. “Jaringan” ini bergantung pada tiga mekanisme moneter utama:

  • Menggabungkan dan Mengendalikan Modal:

Lembaga investasi internasional (seperti J.P. Morgan, Rockefeller, Rothschild, dan Warburg) mengumpulkan deposit komersial, tabungan, dana pensiun, dan modal asuransi ke dalam sistem yang terintegrasi. Mereka tidak perlu secara pribadi memiliki semua dana; cukup dengan mengendalikan aliran dana memungkinkan mereka untuk memperoleh kursi di dewan direksi perusahaan, mengarahkan modal ke perusahaan yang patuh, dan menolak modal kepada pesaing independen. Pemerintah yang membutuhkan pinjaman diwajibkan untuk mengikuti nasihat para bankir, yang secara konsisten menguntungkan elit perbankan sambil membebani publik. Program austerity IMF (yang diterapkan di Yunani dan Indonesia pasca krisis) merupakan contoh kasus nyata.[iv]

  • Penyitaan Kekayaan Langsung (Pajak Penghasilan Federal):

Di AS melalui seorang pengendali “Jaringan,” Presiden Woodrow Wilson menandatangani Amandemen ke-16 dan Pajak Penghasilan Federal menjadi undang-undang pada tahun 1913. Ini memberikan negara—dan “Jaringan” yang mengendalikannya—kewenangan hukum untuk menyita triliunan dari warga yang bekerja. Untuk menghindari dirinya sendiri harus mengikuti peraturan baru ini, elit “Jaringan” mendirikan yayasan bebas pajak sebelum undang-undang tersebut disahkan, melindungi kekayaan mereka sambil mendapatkan kendali atas pendidikan dan kebijakan publik.

  • Penciptaan Uang dan Utang yang Tak Terhindarkan (Perbankan Sentral):

    • Sistem Federal Reserve: Disusun selama pertemuan rahasia tahun 1910 di Pulau Jekyll oleh bankir internasional dan Senator Nelson Aldrich, undang-undang Federal Reserve disahkan pada tahun 1913 era Presiden Woodrow Wilson.
    • Perangkap Utang: Bank sentral mencetak dan menciptakan uang dari ruang hampa sebagai kredit bank dan meminjamkannya ke ekonomi dengan bunga. Karena setiap dolar yang beredar mewakili utang yang dibuat oleh pinjaman bank, melunasi semua utang akan mengecilkan pasokan uang menjadi nol. Desain ini membuat pemerintah dan warga negara terjebak dalam utang secara permanen, memaksa pemerintah untuk terus meminjam dan mematuhi kebijakan “Jaringan”.
    • Meninggalkan Standar Emas: Dengan menghapus standar emas, bankir internasional menghilangkan batas fisik pada penciptaan uang fiktif, memungkinkan pencetakan uang tanpa batas dan ekspansi utang pemerintah AS (berakumulasi $ 40 Triliun pada saat ini).

3. Dalam Cara Apa Mereka Menciptakan Propaganda dan Membentuk Opini Publik?

Untuk mempertahankan kendalinya atas populasi demokratis tanpa persetujuan, Jaringan sangat bergantung pada manajemen persepsi dan lembaga pembentuk opini:

  • Infiltrasi Media dan Akademia:

Jaringan ini telah membangun pengaruh yang mendalam di dalam saluran media berita utama (The New York Times, Washington Post, New York Herald Tribune, Christian Science Monitor, dan The Times di London), penerbit terkemuka, universitas-universitas besar (Oxford, Harvard, Princeton, dan universitas terkemuka di Ivy League), dan berbagai jurnal akademik terkemuka.

  • Manipulasi Ilmiah terhadap Massa:

Menggunakan penelitian psikologis dan tokoh-tokoh seperti Edward Bernays (“bapak propaganda”) dan filsuf Bertrand Russell, Jaringan ini menggunakan teknik untuk “membentuk pikiran publik” (to regiment the public mind). Bernays mencatat bahwa manipulasi sadar terhadap kebiasaan massa membentuk “pemerintahan tak terlihat” yang memegang kekuasaan sebenarnya.[v]

  • Pengekangan Informasi dan Penjagaan Pintu Gerbang:

    • Peredaman Berita Media: Ketika komite Kongres di AS menyelidiki kelompok depan “Jaringan” (seperti yayasan bebas pajak), media yang telah menjadi agen “Jaringan” melakukan penekanan dan peredaman liputan untuk memastikan publik tetap tidak mendapatkan informasi yang sebenarnya.
    • Pengontrolan Akademis: Organisasi yang mengendalikan pendanaan penelitian, Hak Kekayaan Intelektual, penunjukan universitas, dan ulasan buku untuk mempromosikan para sarjana dan tokoh intelektual yang bersepakat dan menjadi agen luar “Jaringan,” sekaligus membungkam dan menutup karier mereka yang berbeda pendapat.
  • Problem-Reaction-Solution (Eksploitasi Krisis):

Jaringan ini sering kali menunjukkan ketidakadilan atau krisis keuangan (sering kali diciptakan atau diprovokasi oleh anggotanya sendiri, seperti J.P. Morgan yang memicu Kepanikan 1907 di AS), membangkitkan reaksi emosional publik, dan kemudian menyajikan solusi yang telah direncanakan sebelumnya—seperti perbankan sentral atau regulasi pemerintah yang diperluas—yang semakin mengkonsolidasikan kekuasaannya. (Apakah krisis 1998 di Indonesia masuk dalam kategori ini?)

  • Alasan untuk Perang, Kebijakan Ganda, dan Alasan Palsu:

    • Propaganda Perang: Selama Perang Dunia I, pemerintah Inggris mendistribusikan Laporan Bryce yang dipalsukan yang merinci kekejaman Jerman yang dibuat sensasi untuk mengatasi netralitas Amerika, sementara tenggelamnya Lusitania yang penuh dengan amunisi digunakan untuk membangkitkan kemarahan publik. Cara yang sama dipakai untuk alasan perang Irak dengan membuat sensasi palsu tentang senjata pemusnah massal Saddam Hussein.
    • Politik Ganda: Para pemimpin secara publik berjanji untuk perdamaian atau keamanan kolektif untuk memenangkan suara, sementara secara pribadi mengejar perjanjian rahasia yang merusak janji-janji tersebut (misalnya, diplomat Inggris secara diam-diam membagi Ethiopia dengan Mussolini sambil secara publik mendukung sanksi Liga Bangsa-Bangsa). Juga bagaimana perjanjian untuk tidak melakukan ekspansi NATO bersamaan dengan dibubarkannya Pakta Warsawa saat Uni Soviet bubar dan dilebur menjadi Federasi Rusia, yang ternyata NATO terus berkembang ke arah Rusia dan menjadi perang Ukraina sekarang dengan alasan “invasi Rusia melanggar kedaulatan Ukraina.”
    • Operasi Northwoods: Pada tahun 1962, Panglima Gabungan Angkatan Bersenjata AS menyetujui rencana rahasia untuk melakukan serangan teroris yang dipentaskan pada target-target AS—termasuk berpura-pura menembak jatuh pesawat sipil dengan drone yang dikendalikan dari jarak jauh—untuk menjebak Kuba dan membenarkan invasi militer.
    • Operasi Gladio: Setelah Perang Dunia II, CIA dan NATO membentuk tentara rahasia yang tetap berada di Eropa Barat. Unit-unit rahasia ini melakukan pengeboman teroris terhadap warga sipil (seperti pengeboman mobil dan pembantaian stasiun Bologna di Italia) dan menjebak partai politik kiri untuk menakut-nakuti publik agar memilih rezim keamanan negara.

Apa tujuan mereka melakukan ini semua? Tak lain dan tak bukan: pengendalian atas keuangan negara secara global.

Sejarawan Quigley merangkum ambisi utama “Jaringan” melalui institusi keuangan untuk menciptakan “sistem kontrol keuangan dunia di tangan swasta yang mampu mendominasi sistem politik setiap negara dan ekonomi dunia secara keseluruhan”.

Dengan mengendalikan pinjaman pemerintah, tingkat utang nasional, dan ketersediaan kredit, maka bankir internasional memaksa pemerintah untuk patuh kepada agenda “Jaringan.”

Seperti yang dinyatakan oleh mantan Menteri Keuangan Inggris Reginald McKenna yang dikutip Plummer: “They who control the credit of the nation direct the policy of Governments and hold in the hollow of their hands the destiny of the people.” Mereka yang mengendalikan utang suatu negara adalah menjadi pengarah kebijakan Pemerintah dan menggenggam nasib rakyat di telapak tangannya.

Catatan kaki:

[i] Rhodesia adalah nama yang dahulu merujuk kepada sebuah koloni Britania Raya di Afrika yang dipimpin oleh minoritas orang Inggris. Nama itu merujuk dari nama Cecil Rhodes sebagai bapak pendiri koloni itu. Nama “Rhodesia” secara geografis meliputi kawasan yang kini merupakan wilayah negara Zimbabwe (dahulu Rhodesia Selatan) dan negara Zambia (dahulu Rhodesia Utara). (Sumber: Wikipedia).

[ii] Operasi Gladio adalah nama sandi untuk operasi rahasia “stay-behind” perlawanan bersenjata yang bekerja sama dengan beberapa badan intelijen Eropa selama Perang Dingin. Operasi tersebut melibatkan penggunaan pembunuhan, perang psikologis, dan operasi palsu untuk mendiskreditkan partai-partai sayap kiri di negara-negara Eropa Barat dan untuk mendukung milisi anti-komunis serta teroris sayap kanan yang melakukan penyiksaan dan pembunuhan mereka yang dianggap komunis. (Dari rujukan Wikipedia bersumber beberapa tulisan: Williams, Paul L. (2015). Operation Gladio: The Unholy Alliance Between the Vatican, the CIA, and the Mafia; Parallel History Project (28 October 2016). Secret Warfare: Operation Gladio and NATO’s Stay-Behind Armies).

[iii] Tercatat sukses sebagai dubes AS di Indonesia (1986-1989) dan memberikan pengaruh kuat pada cabinet Suharto. Dari sumber Wikipedia, dikutip oleh Scott Burchill, “What the West Wants from Indonesia” Archived September 29, 2007, at the Wayback Machine, Z Magazine, October 1, 2003, accessed June 7, 2007, mengomentari terjadi pemboman di Bali (2002) Wolfowitz mengatakan (terjemahan): “”Alasan teroris berhasil di Indonesia adalah karena rezim Suharto telah tumbang dan metode yang digunakan untuk menumpas mereka telah hilang.”

[iv] Lihat pandangan Kementerian Keuangan RI (21 Maret 2025) dalam tulisan “Mencintai Austerity di Saat yang Salah.”

[v] Dipengaruhi oleh prinsip-prinsip psikologi massa Gustave Le Bon, Bernays percaya bahwa perilaku manusia dapat dimanipulasi secara efektif, jika figur simbolik independen (“influencers”) dimanipulasi untuk memainkan aspirasi atau ketakutan bawah sadar. Lihat History Today.