KETIKA SOCRATES BERTANYA

Socrates di Era Digital: Mengapa Peradaban Kita Mulai Memuja Kebodohan?

Disunting oleh: Abdul-Jabbar Karim bin Namirudin.

Kita saat ini hidup di tengah dunia di mana suara yang paling lantang sering kali dianggap sebagai yang paling bijaksana, di mana popularitas telah menjadi ukuran baru bagi kebenaran, dan pengaruh seorang influencer telah menggantikan kedalaman pemikiran seorang bijak. Fenomena ini bukan sekadar tren media sosial, melainkan sebuah krisis intelektual yang mendalam dalam kehidupan modern, di mana masyarakat lebih memuja hiburan dan ketenaran dibandingkan kebijakan. Melalui lensa filsafat Socrates, kita diajak untuk melihat bagaimana “revolusi kesadaran” sangat diperlukan untuk memulihkan integritas berpikir di tengah dunia yang semakin bising oleh para pembising.

Popularitas sebagai Ilusi Kebenaran

Dahulu, Socrates berjalan di jalanan Athena untuk mengajukan pertanyaan yang membuat orang tidak nyaman demi menyingkap kepercayaan diri palsu dari mereka yang merasa tahu padahal sebenarnya tidak. Sang filsuf sangat mengkhawatirkan masa di mana opini seorang tokoh sosial, terlepas dari benar atau tidaknya, akan menutupi kebenaran jika diucapkan dengan cukup lantang. Saat ini, kekhawatiran itu mewujud dalam massa yang dengan mudah bertepuk tangan dan mengulang kata-kata menyenangkan yang memberikan ilusi pencapaian kebenaran, apalagi jika dibumbui dengan potongan ayat agama atau kutipan populer yang beredar luas.
Socrates bertujuan membangunkan manusia dari “tidur intelektual”, namun kemajuan teknologi saat ini justru membuat tidur itu semakin lelap melalui fatamorgana yang terlihat nyata. Idola masa kini bukan lagi para pencari kebenaran, melainkan para penghibur, influencer, dan provokator yang menjual cerita eksklusif berbumbu humor demi kenyamanan pendengaran. Mereka mencari perhatian, bukan pemahaman, di mana agora digital saat ini menggunakan “suka” (likes) dan jumlah pengikut sebagai mata uang utamanya, bukan logika.

Bahaya Tersembunyi: Ilusi Pengetahuan

Masalah utama sebenarnya bukan hanya pada para influencer di luar sana, melainkan pada diri kita sendiri yang lebih tertarik pada tontonan, emosi, dan citra daripada nalar serta esensi. Socrates memperingatkan bahwa bahaya terbesar bukanlah ketidaktahuan, melainkan ilusi pengetahuan. Ketika kita berhenti bertanya dan merasa sudah tahu segalanya, saat itulah akal budi kita mati.

Di era ini, sangat jarang ditemukan tokoh publik yang berani mengakui ketidaktahuannya; hal yang dulu dianggap tanda kecerdasan kini justru dicap sebagai kelemahan. Kita dipaksa untuk memiliki opini tentang segala hal tanpa perlu berpikir dalam, karena merasa bahwa segala jawaban sudah tersedia melalui teknologi atau AI. Kita telah membangun peradaban yang mengaburkan visibilitas dengan nilai, di mana seseorang dianggap penting hanya karena banyak dilihat orang, meski ucapannya dangkal. Fenomena ini merupakan kelahiran kembali kaum Sofis Athena dalam wujud influencer populer dan pakar gadungan yang menjual retorika demi keuntungan pribadi.

Paradoks Informasi dan Hilangnya Kerendahan Hati

Meskipun kita memiliki akses ke big data yang tak terbatas, terjadi paradoks di mana semakin kita tenggelam dalam informasi, semakin sulit kita memahami diri sendiri dan sesama. Informasi telah menjadi sekadar kebisingan jika tidak dilandasi oleh kebijaksanaan. Socrates mengajarkan bahwa kebijaksanaan sejati bermula dari menyadari ketidaktahuan diri sendiri; sebuah pengakuan yang bertujuan menghindarkan kesombongan manusia. Namun, kerendahan hati seperti ini semakin asing di dunia yang terobsesi dengan kepastian diri.

Socrates percaya masyarakat hanya bisa berkembang jika warganya mencari kebenaran di atas kenikmatan sesaat. Ketika hiburan dan status lebih dihargai daripada kebajikan, kemunduran peradaban tidak bisa dielakkan. Saat ini, pahlawan kita adalah para penampil yang tangkas mengalihkan perhatian dari keseriusan berpikir. Kita mengonsumsi ide layaknya makanan cepat saji (junk food) yang langsung dikunyah secara emosional tanpa dicerna, yang pada akhirnya menumpulkan akal budi sehingga tidak mampu lagi membedakan pengetahuan dari ilusi.

Tantangan di Pasar Digital

Socrates yang dulu menggugah orang di pasar Athena tentang keadilan dan kebajikan mungkin akan dianggap sebagai pengganggu di pasar digital saat ini. Pertanyaan-pertanyaan mendalam akan di-skip karena dianggap mengganggu ritme instan dalam perlombaan mencari perhatian. Padahal, demokrasi hanya bisa berjalan baik jika warga negaranya dididik dalam nalar; tanpa itu, rakyat hanya akan memilih mereka yang nyaring mengatakan apa yang menyenangkan untuk didengar.

Wacana publik kini telah berubah menjadi teater di mana kebenaran kalah bersaing dengan popularitas. Setiap klik dan “likes” yang kita berikan menjadi imbalan (reward) yang memperkuat dorongan emosional kita untuk bergabung dalam gerombolan “biri-biri” digital yang mengikuti narasi penguasa tanpa berpikir rasional. Pemujaan terhadap ketidaktahuan ini adalah penyerahan diri secara bertahap. Ketika kita berhenti bertanya, kita mulai memuja, dan itulah yang disebut Socrates sebagai pembusukan moral yang bersembunyi di balik ilusi kemajuan teknologi.

Masyarakat yang secara teknis maju namun sepi, cemas, dan terpecah belah adalah konsekuensi dari hilangnya pemahaman diri. Kita membanggakan influencer yang mungkin tidak memberikan pengaruh menuju kebenaran, dan kita memberikan imbalan berupa validasi bahkan saat mereka salah. Jika Socrates hidup hari ini, dia mungkin akan di-blokir atau di-unfriend karena pertanyaannya membuat orang merasa tidak nyaman. Keangkuhan atau hubris karena merasa tahu lebih baik daripada kebenaran itu sendiri adalah awal dari keruntuhan sejarah.

Menemukan Kembali Keheningan dan Kesadaran

Apakah masih ada harapan? Harapan itu ada pada kemampuan kita untuk menemukan kembali keheningan di mana refleksi dan kesadaran diri lahir. Kita sering mengisi setiap momen kosong dengan layar ponsel karena takut menghadapi jiwa kita sendiri dalam keheningan. Padahal, penyembuhan dimulai dari keberanian menghadapi diri sendiri tanpa ilusi.

Kebijaksanaan bukan berasal dari institusi, melainkan dari pilihan individu untuk mencari kebenaran daripada kenyamanan. Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh budaya, tetapi kita bisa mengubah hubungan kita dengan lingkungan dengan memilih untuk mendengarkan lebih serius dan berpikir lebih kritis. Ketidaktahuan, bagi Socrates, adalah jenis kebutaan moral yang sering kali dipelihara oleh kekuasaan karena lebih mudah memerintah mereka yang terkecoh daripada mereka yang cerdas dan bijaksana.

Media dan politik saat ini mendominasi dengan menjual perhatian sebagai mata uang paling berharga. Siapa pun yang mengendalikan apa yang kita lihat, mengendalikan apa yang kita pikirkan. Senjata terbaik untuk melawan manipulasi ini bukanlah kemarahan, melainkan nalar. Sayangnya, di era digital, tindakan mempertanyakan kebenaran sering kali dicap sebagai pemberontakan atau penyimpangan oleh pihak berkuasa yang ingin massa tetap terkecoh, terdistraksi, dan terpecah belah.

Melawan Kegilaan Kolektif

Kegilaan kolektif muncul ketika orang berhenti berpikir untuk diri mereka sendiri dan membiarkan kerumunan menjadi hakim atas kebenaran. Kita sering terbujuk oleh slogan atau kemarahan viral tanpa sempat bertanya tentang kebenaran atau siapa yang diuntungkan dari kejadian tersebut. Sistem modern memang tidak menginginkan pemikir, melainkan konsumen yang mudah dikendalikan. Oleh karena itu, dialektika atau dialog yang bertujuan untuk membangunkan kesadaran adalah penawarnya.

Kita juga sering merancukan “kebebasan” dengan “pilihan”. Memiliki pilihan ideologi atau merek yang tak terbatas tidak berarti kita bebas jika kita tidak bisa mengendalikan pikiran kita sendiri. Socrates menganalogikan jiwa seperti kusir kereta dengan dua kuda; jika akal budi (kusir) kehilangan kendali atas nafsu (kuda liar), maka jiwa akan kacau. Di era modern, akal budi kita sering kali tertidur sementara kita ditarik oleh kecepatan dan kesegeraan instan, membuat kita menjadi “automata” yang hanya mengikuti perintah yang menyamar sebagai keinginan.

Langkah Menuju Perubahan: Menjadi ‘Socrates Baru’

Kemenangan terbesar adalah kemenangan atas diri sendiri. Di era informasi yang sebenarnya merupakan era ketergantungan ini, kita harus berani berpikir mandiri. Kebijaksanaan tidak pernah menghilang dari dunia, ia hanya menghilang dari dalam diri kita saat kita berhenti mencarinya dan lebih memilih memuja tren atau tokoh populer.

Integritas pikiran lebih berharga daripada kehidupan itu sendiri; inilah pesan dari kematian Socrates. Setiap era kegelapan adalah undangan untuk kebangkitan. Krisis yang kita hadapi saat ini dapat memicu lahirnya para “Socrates baru” yang berani bertanya dan menolak untuk ditipu. Memiliki arete atau keunggulan jiwa berarti menyelaraskan pikiran dan tindakan dengan kebenaran, meskipun harus berdiri sendirian melawan arus konformitas.

Dengan memahami diri sendiri—ketakutan, keinginan, dan ilusi kita—kita menjadi kebal terhadap manipulasi. Revolusi kesadaran yang tenang ini dimulai saat kita berani melangkah keluar dari kerumunan dan masuk ke dalam cahaya batin kita sendiri. Pengakuan bahwa kita tidak tahu apa-apa bukanlah kelemahan, melainkan sebuah deklarasi kebebasan dan titik awal kecerdasan tulus. Pada akhirnya, revolusi sejati tidak dimulai di jalanan, melainkan di dalam pikiran kita sendiri.

(Tulisan ini disarikan dan disadur dari The Psyche: How Our Society Started Worshiping Idiots — Socrates) – lihat versi lengkap di Blog Penulis.