Oleh Sudarsono*
Istilah Godzilla El Nino terdengar dramatis, seolah menggambarkan monster raksasa yang mengacaukan dunia. Media internasional menggunakan istilah tersebut untuk menyebut fenomena El Nino dengan intensitas yang sangat kuat dan berdampak luas di berbagai belahan bumi. Meskipun bukan istilah ilmiah resmi, penyebutan tersebut menjadi cara populer untuk menggambarkan El Nino ekstrem yang berpotensi memicu berbagai gangguan iklim.
Pertanyaannya, apakah Indonesia perlu mengkhawatirkan fenomena ini? Jawabannya adalah ya. Bahkan El Nino dengan intensitas sedang sekalipun mampu memicu musim kemarau yang lebih panjang, penurunan curah hujan, serta meningkatnya risiko kekeringan. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi langkah yang jauh lebih penting daripada menunggu dampaknya terjadi.
Memahami Godzilla El Nino
El Nino merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Peningkatan suhu tersebut mengubah pola sirkulasi atmosfer sehingga memengaruhi pola hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Dampaknya, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan curah hujan yang menurun.
Fenomena ini dapat diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) atau Dipol Samudra Hindia, yaitu perbedaan suhu permukaan laut antara bagian barat dan timur Samudra Hindia yang turut memengaruhi pola cuaca di Asia Tenggara dan Australia.
Apabila El Nino yang kuat terjadi bersamaan dengan fase positif IOD, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai Godzilla El Nino, terutama ketika anomali suhu permukaan laut melebihi 2,5 derajat Celsius dan berlangsung selama sekitar 9–12 bulan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak El Nino ekstrem. Wilayah Jawa, Sumatra, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang, penurunan curah hujan secara drastis, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Sebaliknya, sebagian wilayah timur laut Indonesia seperti Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan sehingga berpotensi menghadapi bencana hidrometeorologi.
Menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mulai Oktober 2026 Indonesia berpotensi mengalami El Nino kuat yang perlu diantisipasi sejak dini.
Ancaman terhadap Ketahanan Pangan
Sektor pertanian menjadi bidang yang paling terdampak apabila Godzilla El Nino benar-benar terjadi. Gangguan siklus tanam padi dan jagung dapat menyebabkan penurunan produksi pangan nasional, berkurangnya pasokan bahan pangan, serta meningkatnya harga komoditas.
Tidak hanya padi, tanaman jagung juga sangat rentan terhadap kekurangan air. Tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan turut terdampak karena membutuhkan pasokan air yang stabil. Di sektor peternakan, berkurangnya hijauan pakan dapat menurunkan produksi daging dan susu.
Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi meningkatkan inflasi pangan dan menurunkan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, fenomena Godzilla El Nino bukan hanya persoalan iklim, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi nasional.
Pengalaman El Nino tahun 1997–1998 dan 2015 menunjukkan bahwa produksi pangan menurun dan harga beras meningkat tajam. Karena itu, pemerintah perlu memastikan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tetap memadai serta menyiapkan skenario impor secara terukur apabila produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Strategi Adaptasi bagi Petani
Petani memang tidak dapat mengendalikan fenomena iklim global, tetapi mereka dapat mengurangi dampaknya melalui berbagai langkah adaptasi.
Pertama, penyesuaian kalender tanam berdasarkan informasi prakiraan cuaca dari BMKG menjadi langkah yang sangat penting agar tanaman memperoleh pasokan air yang cukup selama masa pertumbuhan.
Kedua, diversifikasi tanaman perlu diperluas. Selain padi, petani dapat mengembangkan komoditas yang lebih tahan kekeringan, seperti sorgum, ubi kayu, dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Ketiga, pengelolaan air harus dilakukan secara lebih efisien melalui pemanfaatan embung, sumur bor, maupun teknologi irigasi hemat air. Kerja sama antarkelompok tani juga diperlukan agar distribusi air berlangsung lebih merata.
Keempat, penggunaan varietas unggul yang tahan kekeringan dan berumur genjah dapat membantu menjaga produktivitas tanaman meskipun pasokan air terbatas.
Kelima, pemupukan berimbang perlu diterapkan dengan mengurangi penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan serta meningkatkan pemanfaatan pupuk organik dan unsur hara mikro agar tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan.
Selain itu, teknik konservasi lahan melalui penggunaan mulsa jerami maupun plastik hitam perak dapat membantu mempertahankan kelembapan tanah dan mengurangi penguapan.
Langkah Strategis Pemerintah
Menghadapi potensi Godzilla El Nino, pemerintah perlu mengambil berbagai langkah strategis secara terpadu. Di sektor pertanian, Kementerian Pertanian perlu menyusun kalender tanam berbasis prakiraan BMKG, memperluas distribusi benih tahan kekeringan, mempercepat pembangunan embung, memperbaiki jaringan irigasi, serta mendorong diversifikasi pangan.
Untuk menjaga stabilitas harga pangan, pemerintah harus memperkuat stok Cadangan Beras Pemerintah melalui Perum Bulog sehingga dapat melakukan intervensi pasar apabila terjadi kenaikan harga yang signifikan. Apabila produksi nasional tidak mencukupi, kebijakan impor harus dilakukan secara terukur agar tidak merugikan petani.
Di bidang lingkungan, pengawasan terhadap daerah rawan kebakaran, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, perlu diperkuat melalui sistem deteksi dini serta rehabilitasi lahan kritis guna menjaga kelembapan tanah.
Sementara itu, dari sisi sosial dan ekonomi, pemerintah perlu memberikan dukungan kepada petani melalui bantuan sarana produksi, subsidi pengelolaan air, serta pendampingan oleh penyuluh pertanian.
Koordinasi lintas kementerian juga menjadi faktor penting, terutama antara Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BMKG, dan Perum Bulog agar seluruh langkah mitigasi berjalan secara terpadu.
Menghadapi ancaman Godzilla El Nino bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petani. Masyarakat juga memiliki peran penting melalui penghematan penggunaan air, perbaikan kebocoran saluran air, serta pemanfaatan air hujan apabila memungkinkan.
Selain itu, masyarakat perlu mengurangi pemborosan pangan, mengutamakan konsumsi bahan pangan lokal yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan dengan tidak melakukan pembakaran sembarangan dan segera melaporkan apabila ditemukan titik api.
Yang tidak kalah penting, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi di media sosial.
Penutup
Godzilla El Nino merupakan peringatan bahwa perubahan iklim dapat berdampak besar terhadap ketahanan pangan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, fenomena ini harus dipandang sebagai alarm dini untuk memperkuat sistem irigasi, memperluas diversifikasi pangan, meningkatkan cadangan beras nasional, dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
Semakin dini langkah antisipasi dilakukan, semakin kecil pula risiko yang harus ditanggung bangsa Indonesia ketika El Nino ekstrem benar-benar terjadi.
*) Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc, adalah guru Besar Institut Pertanian Bogor sekaligus Ketua Majelis Pakar DPP LDII.
Artikel ini diolah dari berita di ldii.or.id berjudul: Bumi Terancam Godzilla El Nino, DPP LDII Minta Sejarah Kurang Pangan Tidak Terulang
https://www.ldii.or.id/bumi-terancam-godzilla-el-nino-dpp-ldii-minta-sejarah-kurang-pangan-tidak-terulang/


